My Pages

Monday, April 25, 2011

Hardrock Hotel, Kute

Rasanya refresh lagi, seperti layaknya menekan F5 dikomputer. Itulah gunanya liburan bagi kebanyakan orang, termasuk gue. Ntah berapa daya yang sudah dikeluarkan untuk berlibur, tidak akan pernah bisa dihitung dibandingkan dengan manfaat yang terasa. Dengan pertimbangan – pertimbangan diatas maka gue putuskan untuk pergi berlibur, yang kemudian gue sebut dengan libur colongan.

Mengapa disebut libur colongan, jelas sekali bahwa liburan gue kali ini adalah menyolong kesempatan dalam kesempitan waktu, jujur boleh dikata bahwa sejak gue dipercaya sebagai … ehm .. ehm sang ibu dari seorang anak cantik nan pintar yang bernama Jocelyn Nathaniella Thio dan ..ehm .. ehm … sang ibu komisaris dari suatu perseroan terbatas, tidak banyak waktu yang bisa diluangkan untuk berleyeh – leyeh hanya untuk tiduran sambil baca buku sambil ngunyah kitkat mungkin, apalagi untuk berpergian kesebrang lautan melintasi gunung dan bukit dan sebuah jembatan pelintas pulau.

Actually and honest to be honest, sebelom gue memutuskan untuk libur, gue mengalami masa – masa yang menurut tingkat mentalitas gue sekarang, boleh dikatakan teramat berat, as you may know from the blog and also that you might not know. So setelah keadaan keadaan sudah mulai kondusif, gue melihat satu tanggal, yang ntah mengapa, gue memutuskan bahwa gue harus pergi ke suatu tempat pada tanggal tersebut.
Bali, sebuah pulau yang sangat terkenal di muka bumi ini merupakan salah satu pulau yang banyak dikunjungi oleh berbagai suku bangsa di dunia, itulah tempat libur colongan gue, so tanpa banyak berkata apa – apa, marilah dengar hai dengar cerita perjalananku ke sana.

Begini, sebenarnya cerita perjalanan gue mungkin tidak menarik bagi kebanyakan orang. Waktu yang digunakan hanya dua hari 1 malam, banyak pendapat mengatakan “Buat apa pergi begitu sebentar, cape – capein aja”, tapi rasanya untuk seorang yang tidak merasakan liburan selama hamper 4 tahun, every single second of my holiday is a gold! Karena setiap detiknya adalah emas, maka gue hanya mempergunakannya untuk segala hal yang nggak kalah penting dengan nilai emas itu sendiri, tidur di hotel idaman gue, makan yang gue suka, masuk ke tempat dimana orang akan berpikir dua kali, melakukan segala aktivitas yang benar – benar dulu hanya ada dalam angan – angan gue … bukannya mau sombong deh.

So, actually sebenarnya pada posting kali ini gue ingin bertutur kata soal hotel tempat gue menginap, gue menginap di Hardrock hotel kute, I just so lucky bahwa hari itu gue mendapat potongan harga untuk kamar Delux, yang tadinya 1.6 menjadi 1.2 permalam. So lets take a look inside.

Main Enterance



Guitar Decoration



The Beatles say Hi to you


The Alley ... liat lampunya yang memantul dilantai ... so cute





Delux Room ... that i stayed




Restaurant



The Park



Kiddy Park




and my most Fave .... The Pool










Oh ya, ada satu tempat makan yang kudu gue datengin lagi in my visit next time ke Bali, yaitu Nasi Pecel Bu Tinuk, nasi pecelnya top banget sampai buat ketagihan. Letaknya di Jalan Kute Raya, sebrangnya Bank Mandiri.



Demikian cerita perjalanan gue kali ini ... next travel destination ... pulkam, Belitung

Wednesday, January 12, 2011

Perpisahan

Waktu terus berjalan, semakin lama semakin kita harus mempersiapkan diri kita untuk di tinggal oleh orang - orang yang dikasihi. Gue sendiri sesungguhnya nggak pernah tau seperti apa benar - benar ditinggal oleh orang yang dikasihi. Selama hidup, people come and go like wind seperti ketika masuk sekolah punya teman baru lalu ketika lulus maka harus berpisah dengan teman - teman yang dikasihi, atau ketika kita pindah ke tempat kerja yang baru maka kita harus berpisah dengan teman - teman di kantor yang lama. Seumur hidup, ga pernah gue merasakan yang namanya perpisahan abadi.

Namun lambat laun, hal itu harus gue hadapi juga, awal tahun 2011 ini salah satu orang yang paling gue sayangi meninggalkan gue untuk selama - lamanya, Phopho gue. Tadinya gue pikir gue sudah siap untuk kepergiannya mengingat umurnya sudah menjelang 100. Tetapi ketika hal itu terjadi ternyata gue malah belum siap. Dulu ketika dia masih sehat, gue masih terlalu kecil untuk ingat kasih dia sama gue, ketika gue sudah mulai bisa membalas sedikit demi sedikit, dia sudah nggak bisa lagi merasakannya karena usia yang menyebabkan dia buta dan nggak bisa jalan.

Sekarang dia sudah pergi tanpa bisa merasakan balasan gue atas kasihnya, gue ga akan pernah liat senyumannya lagi, rambutnya yang putih, dan ga akan bisa lagi merasakan kasih sayangnya.

Seumur hidupnya dia sudah menjadi ibu, nenek, buyut yang sangat amat baik, dan ketika dia meninggal seluruh keluarga besar begitu kehilangan. Satu yang gue ingat, nggak akan ada lagi kumpul - kumpul perayaan tahun baru imlek dirumahnya, bahkan gue sangsi kalau tradisi kumpul - kumpul itu masih akan berjalan.

Selamat Tinggal akar dari keluarga besar Jap

Jap Evi Djamoto

1910 - 2011